Total Tayangan Halaman

Minggu, 11 Januari 2009

Ny. Hasibuan dan Uang Baru:Wanita Penukar Uang Receh yang Mampu Menguliahkan 3 Putrinya

Jakarta, 3 Desember 2007
Siang itu sekitar pukul 14.00 WIB, pada 2 Desember 2007, dalam terminal Kampung Rambutan di peron bis antar kota duduk seorang wanita berusia 40-an di bangku ruang tunggu penumpang memegang setumpuk uang kertas baru. Wanita tersebut sedang menjalani profesinya dengan menawarkan jasa penukaran uang menjadi pecahan yang lebih kecil nominalnya, dan biasa disebut ‘inang penukar receh’.

Ia langsung menawarkan jasanya ketika penulis baru menemuinya,”Mau nukarin uangnya mas?” ujarnya dengan dialek bataknya yang kental ketika ia didekati. Nominal uang yang ditawarkan mulai dari pecahan Rp100, Rp1000, hingga Rp100.000. Ny. Hasibuan awalnya menolak untuk diwawancarai ketika dijelaskan mengenai maksud dan tujuan penulis dengan alasan ia tidak biasa diwawancarai selain itu juga ia tidak ingin diketahui oleh orang banyak mengenai profesinya tersebut.

Wanita dengan 3 putri ini telah menjalani profesi sebagai ‘penukar receh’ sejak tahun 1995 atau sudah 12 tahun lamanya. Awalnya wanita yang tidak mau disebutkan nama dan profil detailnya ini berjualan Aqua dan minuman keliling di terminal Kampung Rambutan sejak suamiya meninggal dunia di tahun 1995. Ia berjualan Aqua dan minuman lain dengan harga sedikit di atas yang didapatnya dari agen kemudian menyetorkannya setiap hari kepada agen berapapun jumlah minuman yang terjual.

Suatu hari ia melayani beberapa pembelinya yang umumnya kondektur dan calon penumpang yang kerap kali mau menukarkan uang menjadi pecahan lebih kecil nominalnya. “Karena berjualan Aqua kan nggak seberapa uangnya, jadi paling bisa nukarin sedikit lah!” Baru setelah melihat kebiasaan kondektur dan orang-orang terminal yang menukar untuk kembalian kemudian ada seorang wanita ‘Batak’ atau ‘inang’ dari Pulogadung yang berprofesi sebagai ‘penukar receh’ memberitahunya tentang profesinya dan keuntungan yang didapatnya barulah ia memutuskan untuk memilih profesi sebagai ‘penukar receh’.

Kegigihan dalam memperjuangkan hidup dan berbagai pengalaman baik dan buruk yang sudah dilalui wanita yang pindah ke Jakarta tahun 1990 bersama keluarganya menjadi pendorongnya untuk tetap bertahan di ibukota. Kesulitan pertama yang ia temui ketika mulai terjun usaha uang baru adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan uang baru dari Bank Indonesia sementara ia tidak tahu lokasinya. Ia khawatir jika bertanya pada orang yang tidak dikenalnya akan menjadi korban perampokan karena dikira akan membawa uang banyak.

“Saya keliling kota sama anak saya, mencari yang namanya Bank Indonesia enggak ketemu-ketemu,” katanya sambil tersenyum. Baru setelah cukup lama keliling kota mencari ia bertanya kepada tukang sapu yang memberitahunya lokasi Beos, tempat untuk menukar uang lama dengan uang baru. Menurut Ny. Hasibuan, setiap transaksi penukaran uang sejumlah Rp100.000 ia mendapatkan keuntungan Rp2000. Ia juga bisa mendapatkan penghasilan hingga mencapai Rp1 juta rupiah perhari seperti pada hari menjelang Lebaran lalu.

Selain melayani jasa penukaran uang, wanita yang pernah membuka warung di rumahnya di Kampung Tengah ini juga melayani jasa penyimpanan dan peminjaman layaknya sebuah ‘bank berjalan’, seperti kebanyakan wanita penukar receh lainnya di tempat itu yang jumlahnya terlihat sekitar 3 orang.

Dari profesinya menjadi penyedia uang receh selama 12 tahun ia berhasil membiayai kuliah ketiga putrinya. Putri pertamanya sudah bekerja setelah lulus dari universitas swasta di Jakarta, sedang putri keduanya kuliah di universitas negeri ternama di Depok mengambil jalur ekstensi di bidang Manajemen pada tahun keduanya, dan putri ketiganya yang juga baru kuliah di universitas swasta setelah dibujuk Ny. Hasibuan karena awalnya berniat memilih untuk bekerja atau berusaha selepas dari SMK mengikuti jejak ibunya.

Keuletannya dan kepasrahannya pada Tuhan diakuinya selalu menjadi pegangan dalam hidupnya. Sudah berbagai profesi atau usaha ia kerjakan namun hanya kegagalan didapatnya mulai dari membuka warung, berjualan minuman keliling tidak membuatnya menyerah hingga akhirnya ia menjadi penukar receh di Terminal Kampung Rambutan.

Diterbitkan pada media harian: Batak Pos, 4 Desember 2007.

Rumah Kos dan Warteg Habis Terbakar

Jakarta, 7 Desember 2007

Sore itu ketika sedang ngobrol dengan seorang sahabat dalam sebuah bus patas dari arah Salemba menuju arah Matraman terjadi kemacetan luar biasa mendekati perempatan Matraman. Setelah bus tepat di perempatan ternyata terlihat penyebab kemacetan ada di jalur menuju jalan Pramuka. Dari posisi tersebut terlihat samar-samar kepulan asap kebakaran dari jarak sekitar 500 meter lebih dekat dengan Hotel Sentral. Setelah terjadi diskusi seru dengan sahabat demikian juga dengan penumpang lain mengenai kejadian tersebut, akhirnya sahabat menganjurkan dan meyakinkan saya untuk melihat kejadian tersebut dan mengorek informasi lengkap sebagai materi tulisan berita atau jurnalistik untuk sebuah media massa harian.

Akhirnya saya turun dari bus dan langsung berjalan kaki menuju lokasi kejadian. Sesampainya disana sudah ramai dengan kerumunan massa, petugas pemadam kebakaran dan aparat kepolisian serta para “kuli tinta”. Puluhan rumah dan bangunan, seperti sejumlah toko, bengkel, warteg dan rumah kos dilalap si jago merah di kawasan jalan Pramuka, Rawasari, Jakarta Timur, Jumat 7 Desember sore. Akibat kejadian itu, jalan macet mulai dari perempatan Jalan Pramuka hingga Hotel Sentral.

Kanitreskrim Polres Cempaka Putih Suhendar mengatakan, kebakaran diduga berawal dari hubungan arus pendek dari sebuah bengkel milik seorang warga bernama Yasin. “Dari penyelidikan sementara kebakaran terjadi sekitar pukul tiga sore tadi, berasal dari arus pendek di bengkel milik Pak Yasin kemudian menyebar ke sekitar kos-kosan dan warteg,” ujarnya.

Namun pendapat tersebut berbeda dengan pengakuan seorang saksi yang juga penghuni kos bernama Iwan (21) yang mengatakan kepada pihak kepolisian bahwa kebakaran berawal dari rumah kos milik Hakim. Pengelola warteg juga menuturkan hal yang sama seperti yang diungkapkan Iwan. Saya tidak sempat bawa apa-apa Mas, cuma bawa tas ini saja langsung kabur keluar dengan anak-anak,” tuturnya diiringi isak tangis bersama kedua putrinya.

Untuk memadamkan api yang menghaguskan enam rumah kos yang terdiri lebih dari 20 kamar, sebuah bengkel, warteg dan sejumlah toko, pemadam kebakaran mengerahkan sekitar 30 unit mobil pemadam yang terdiri dari 100 personel. “Proses menyebarnya api agak cepat karena bangunan sebagian besar terbuat dari kayu dan triplek sehingga butuh banyak unit pemadam yang merupakan gabungan beberapa dinas daerah,” ujar Komandan Peleton Pemadam Kebakaran Kotamadya Jakarta Pusat, Supartono.

Pihak Dinas Pemadam Kebakaran sendiri sangat menyayangkan kondisi lalu-lintas yang macet menuju jalan tersebut. Tanpa menyalahkan pihak manapun Supartono mengungkapkan hal seperti itu memang sering terjadi setiap kali peristiwa kebakaran terjadi. Dalam peristiwa itu tidak ada korban jiwa. Sementara kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Diterbitkan pada media massa harian Batak Pos, 7 Desember 2007.

Jumat, 31 Oktober 2008

Taktik-Taktik Baru dalam Perjuangan HAM

Pengantar Penerbit Bahasa Indonesia

Hari-hari ini, sepuluh tahun semenjak lengsernya Soeharto di tahun 1998, sejauh manakah aktor-aktor pembela HAM dan demokrasi di Indonesia telah berhasil dalam perjuangan melawan impunitas? Sejauh ini pula, seberapa banyak yang sempat kita serap dari berbagai contoh terbaik perjuangan serupa, khususnya dari negeri-negeri yang pernah dilanda otoriterisme?

Buku Acuan Kerja ini memang bukan sebuah buku khusus yang berisikan resep khusus bagi negeri-negeri pasca otoriterisme. Namun buku sederhana ini, berisikan berbagai pengalaman-praktik penggelaran taktik pembelaan HAM dalam situasi-kondisi yang amat beragam pula.

Yang juga tidak kalah pentingnya adalah berkat ketekunan tim penyusun buku ini, kini dengan relatif mudah kita bisa belajar bersama dan memperbandingkan daftar panjang beragam taktik pembelaan HAM, penguatan masyarakat, termasuk di dalamnya pendidikan bagi kaum marjinal, pembangunan aliansi, sampai ke taktik-taktik yang lebih 'bertegangan tinggi' seperti merebut kembali hak masyarakat atas informasi publik yang ditutup-tutupi oleh penguasa melalui berbagai aksi tekanan, reclaiming hak-hak atas lahan bagi masyarakat, atau melancarkan taktik 'naming & shaming' (meyebutkan nama dan mempermalukan) atas pihak-pihak yang memiliki jejak-rekam pelanggaran HAM yang amat nyata (seperti yang dilancarkan oleh komunitas korban dan gerakan HAM di Argentina dan negeri-negeri Amerika Latin lainnya (lihat di bagian Indeks Taktik).

Tentunya dengan membaca satu buku ini saja, tidak akan dengan sendirinya menjadi ahli mengenai taktik-strategi HAM. Untuk itulah dengan rendah hati pihak penyusun buku ini (New Tactics in Human Rights) menyajikan berbagai bahan, mulai dari pemahaman dasar mengenai taktik-strategi, pelatihan pemikiran taktis-strategis sampai dengan pengembangannya secara kreatif dalam wujud yang belum terpikirkan hari ini. Dengan rendah hati pula tim kami dari Konsorsium Penguatan Rakyat (People's Empowerment Consortium) sudah mengadaptasi sejumlah materi tersebut untuk publik Indonesia, untuk berbagai keperluan pendidikan HAM serta perjuangan lebih besar dalam melawan impunitas. Bagian terbesar dari buku ini juga dapat diakses secara online pada situs web kami di atau

Dengan penerbitan edisi pertama dari buku ini kami berharap akan dapat segera memperoleh masukan, perbaikan, kritik, untuk penyempurnaan bagi edisi berikutnya.


Selamat membaca, 4 Juni 2008


Penerbit PEC
(Zico Mulia/Editor)

Rabu, 22 Oktober 2008

Mencermati Kepemimpinan Muda

Perjalanan bangsa Indonesia sangat dipengaruhi oleh kekuasaan sebuah rezim otoritarian yang represif dibawah orde baru selama 32 tahun di tangan Soeharto. Warisan rezim ini sangat kuat dampaknya membentuk sendi-sendi kehidupan tiap lapisan masyarakatnya akibat krisis multi dimensi. Belum terjadi perubahan yang signifikan atas penegakkan demokrasi dan supremasi hukum sejak reformasi 10 tahun lalu. Budaya impunitas (kebebasan dari hukuman) masih berlangsung bagi pelaku pelanggar HAM berat (masa lalu) oleh aparat negara dan juga budaya KKN oleh pejabat negara hingga saat ini.

Hal itu semakin dipertegas dengan majunya calon presiden pada pemilu 2009 dari wajah lama TNI ABRI yang agendanya mengatasnamakan hati nurani rakyat. Padahal sejatinya ia merupakan seorang mantan petinggi lembaga militer yang identik dengan simbol tameng dan partner orde baru yang “berdarah”. Bahkan tokoh tersebut sudah di “black list” oleh lembaga peradilan HAM internasional karena terbukti bertanggung jawab atas pelanggaran HAM berat yang terjadi ketika sebuah proses referendum terjadi di Timor Leste.

Para pemimpin atau elit tua yang berkuasa sejak reformasi bergulir saling menjatuhkan demi kekuasaan dan tak membawa perubahan berarti bagi kondisi politik, sosial, ekonomi, dan budaya di negeri kepulauan ini. Institusi-institusi negara semakin superior menikmati meluasnya ekses fungsional dengan membuat regulasi atau kebijakan atas dasar kebutuhan ekonomi pasar bukan atas dasar kepentingan rakyat banyak. Mungkin Indonesia butuh perubahan besar dan mendasar atau dekonstruksi, bahkan menghendaki terjadinya revolusi seperti tuntutan kaum muda saat ini. Apakah saatnya wajah baru atau tokoh muda memimpin bangsa yang sudah merdeka hampir 63 tahun ini.

Ada dilema soal kepemimpinan muda. Di satu sisi, hal ini memang dibutuhkan untuk menyegarkan demokrasi bangsa Indonesia yang usang ditangan elit tua, namun disisi lain, kepemimpinan muda belum memiliki paradigma khas dan format yang jelas. Muda memang dianggap belum atau tidak berpengalaman dalam segala hal, meskipun golongan ini memiliki pemikiran progresif dengan dasar idealisme yang utuh.

Ketidak jelasan paradigma itu mengenai siapa yang dimaksud kaum muda dan apa itu konsep kepemimpinan kaum muda. Pernyataan itu pernah disampaikan oleh Boni Hargens dalam diskusinya di CafĂ© Darmint, Pasar Festival, Kuningan, Jakarta November silam. ”Saya melihat, kepemimpinan muda masih dipahami hanya sebagai kepemimpinan berwajah muda, padahal muda disini artinya, baru, segar, dinamis, dan modern,” ujarnya kepada pihak pers dan peserta diskusi.

Oleh karena itu kepemimpinan muda adalah kepemimpinan yang membawa nilai atau paradigma baru, yang diperlukan untuk membawa angin segar bagi politik agar demokrasi menjadi sistem dinamis dan modern. Demikian menurut pengajar ilmu politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Ada 4 ciri-ciri kepemimpinan yang harus dimiliki, yaitu: kepemimpinan harus bersifat eksplanatif, evaluatif, orientatif, dan ada program konkretnya.

Eksplanatif untuk menjelaskan penyebab krisis multi dimensi yang belum berakhir mulai dari tahun 1997 hingga saat ini. Selanjutnya tahap evaluatif terhadap permasalahan krisis tersebut pada pemerintahan yang berkuasa. Kemudian untuk memperbaiki krisis multi dimensi tersebut harus memiliki orientasi atau tujuan dalam mencapai sasarannya dengan menciptakan program yang konkret untuk membawa perubahan. Inilah kemudian yang menjadi tantangan bagi kaum muda. Pertanyaannya ialah, apakah sikap kritis dan idealisme mereka mampu memberikan solusi dan membawa perubahan lebih baik dari pemerintahan yang ada sebelumnya. Jangan-jangan mereka sama buruknya dengan politisi busuk dan pejabat korup yang mereka kecam dan hina ketika mereka berada dalam ruang kerja pemerintahan.

Budiman Sudjatmiko, seorang politisi muda PDI Perjuangan, berpendapat ”Kepemimpinan muda bukan hanya dilihat dari segi biologis saja, namun terdapat garis dialektis antara muda secara biologis, muda ide, dan muda secara kelembagaan. Hal yang terpenting adalah muda dalam ide.” Artinya ada pembaharuan dalam gagasan atau praktik sebagai alternatif dari kepemimpinan yang berkuasa saat ini.

Budiman juga berpendapat, permasalahan dari kepemimpinan muda ialah ketika kelompok muda yang kritis dan penuh gagasan praktis namun tidak ada kesepakatan atau konsolidasi untuk memilih pemimpin dari kalangan anggotanya sendiri untuk ikut dalam kancah elit politik. Selain itu juga terkait dengan masalah konstitusi tentang batas usia minimal 35 tahun untuk ikut dalam pemilihan Presiden sesuai dengan UU No. 34 tahun 2004 tentang syarat pemilihan presiden. Mungkin semua hal ini yang menjadi alasan baginya dan tokoh-tokoh muda lain untuk pindah ke partai politik yang sudah mapan dan besar meski dipimpin oleh elit tua.

Proses kepemimpinan secara keseluruhan merupakan sebuah proses yang bersifat politis dan membutuhkan ketrampilan serta kompetensi politik oleh para pemimpin organisasi yang melibatkan serangkaian periode negosiasi dikalangan elitnya yang terlibat dalam proses politik. Jadi tidak bisa dipungkiri bahwa kepemimpinan muda membutuhkan ”kendaraan” politik sendiri jika tidak ingin ikut dalam parpol besar yang dikuasai elit politik lama. Demokrasi memang mahal harganya saat ini apalagi ingin mendirikan sebuah partai yang lolos syarat administrasi oleh lembaga negara. Butuh biaya yang bisa mencapai puluhan bahkan ratusan miliar untuk lolos menciptakan sebuah kendaraan politik.

Memang permasalahan utama kelompok muda dan golongan politik baru hanya seputar kemapanan serta soal akses dan sosial-kapital yang sangat terbatas. Kepemimpinan yang efektif pada akhirnya memang tak lebih dan tak bukan merupakan sebuah hasil dari politik yang efektif, yaitu kepemimpinan yang bisa mengirim sinyal pada berbagai lapisan masyarakat sehingga menyebabkan pihak tersebut berpaling pada dirinya. Hanya konsistensi dan keteguhan memperjuangkan prinsip atas idealisme yang berpihak pada rakyat dapat mendukung cita-cita kepemimpinan muda. Sejauh mana hal itu terus dilakukan dan bertahan disitulah akan tercapai hasil yang sepadan dari perjuangannya.

(Zico Mulia)
Kamis, 10 Juli 2008 (Disadur dari tulisan November 2007)